Tentang Pakarjawi

Pakumpulan Paguyuban Karawitan Jawa-Indonesia (Pakarjawi) dideklarasikan pada Senin 12 Maret 2012. Paguyuban ini hendak menjadi forum komunikasi pemangku dan pecinta seni karawitan dari berbagai pelosok Nusantara.

Pengurus daerah Pakarjawi telah terbentuk di seluruh karisidenan di Jawa Tengah, meliputi Semarang, Surakarta, Pekalongan, Kudus, Tegal, Kedu, dan Banyumas.

Sejarah Pembentukan

IDE membentuk Pakarjawi tak lepas dari kegelisahan sejumlah pecinta karawitan di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Para dosen, karyawan, dan mahasiswa merasa pegiat seni karawitan Jawa membangun komunikasi yang lebih intensif.

Inilah forum yang digunakan untuk berbagi gagasan sekaligus kegelisahan perihal karawitan. Hampir setahun berjalan, forum ini juga mengakomodasi berbagai tema kebudayaan.

Secara resmi Pakarjawi dideklarasikan pada 12 Maret 2012 di kampus Unnes. Mengapa Unnes? Karena lembaga ini, baik secara personal maupun kelembagaan, menaruh perhatian ekstra pada kesenian tradisional Jawa. Lebih-lebih, Unnes juga berkomitmen membangun gerakan konservasi yang salah satunya pada bidang kebudayaan.

Minggu (16/9) pengurus daerah Pakarjawi ditetapkan, meliputi seluruh karisidenen di Jawa Tengah, antara lain Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Banyumas, Tegal, dan Pekalongan. Pembentukan pengurus daerah dilangsungkan bersamaan dengan rapat pengurus pusat organisasi itu. Organisasi terus melebarkan sayap dengan mengandeng pelaku dan pecinta seni tradisional Jawa di berbagai daerah.

Karawitan

KARAWITAN merupakan aset seni pertunjukan tradisi Jawa terpenting di Jawa Tengah. Seni musik tradisional Jawa berlaras slendro dan pelog yang di manca negara lebih dikenal dengan istilah gamelan tersebut hidup tersebar di berbagai tempat tidak hanya di wilayah Jawa Tengah melainkan di Indonesia bahkan dunia. Di Jawa Tengah karawitan hidup di berbagai tempat di pusat-pusat kota, pelosok desa, pedalaman sampai wilayah pesisiran. Kelompok-kelompok karawitan dari yang terkecil Siteran, Cokekan, Gadhon, hingga kelompok Gamelan Ageng baik untuk keperluan mandiri maupun untuk mendukung seni pertunjukan tradisi Jawa lainnya hidup tersebar di berbagai tempat di Jawa Tengah.

Karawitan juga hampir selalu hadir dalam berbagai perhelatan adat dan seni tradisi budaya Jawa. Berbagai jenis seni pertunjukan tradisi Jawa seperti: wayang, ketroprak, tari, reyog, ludruk, sintren, dan lain-lain kiranya tidak dapat hidup tanpa dukungan karawitan. Pertunjukan wayang kulit dapat mencapai kualitas seni yang dikenal adi luhung juga karena dukungan karawitan. Dapat dibayangkan betapa wayang kulit tidak dapat digelar dan dinikmati tanpa dukungan karawitan.

Demikian pula pada wayang wong, wayang gedhog, wayang potehi, wayang golek, dan jenis-jenis pertunjukan wayang lain. Ketoprak, ludruk, reyog, sintren, kubrasiswa, jamjaneng, dhagelan, dan jenis-jenis seni pertunjukan tradisi kerakyatan lainnya pun demikian, Berbagai jenis tari seperti: tayub, lengger, jaipong, gambyong, bedhaya, serimpi, wireng, dan lain-lain pun tak akan dapat tampil tanpa dukungan karawitan. Ringkasnya hampir semua jenis seni pertunjukan tradisi Jawa menggunakan jasa karawitan sebagai musik pendukung.

Tidak hanya untuk mendukung seni pertunjukan tradisi Jawa, dalam berbagai perhelatan upacara ritual adat tradisi Jawa seperti: pernikahan, khitanan, bersih desa, sedekah bumi, sedekah laut, murya laras, dan lain-lain, karawitan juga hampir selalu hadir sebagai sarana pelengkap dan pendukung upacara. Karawitan juga sering hadir sebagai pertunjukan mandiri yang disebut klenengan.

Pelaku Karawitan

Dalam berbagai kelompok seni pertunjukan tradisi Jawa pemain merupakan unsur yang amat penting. Dilihat dari jumlah pemain, pelaku karawitan sering kali menduduki jumlah terbanyak dalam berbagai kelompok seni pertunjukan. Dalam kelompok wayang kulit misalnya,  dalang hanya 1 orang, sedangkan tim karawitan pendukungnya  beranggota 25 sampai 40 orang. Dalam kelompok ketoprak, ludruk, reyog, sintren, kubrasiswa, jamjaneng, dhagelan, tari, dan lain-lain jumlah pemain karawitan pun sering kali lebih banyak daripada para peraga tari dan aktor lainnya. Dalam kelompok-kelompok karawitan mandiri jumlah pemainnya antara 20 hingga 30 orang. Dari ilustraisi tersebut kiranya dapat dibayangkan betapa banyak jumlah praktisi karawitan Jawa di Jawa.

Sekadar ilustrasi, berdasarkan penelitian yang saya lakukan di wilayah kabupaten Sragen pada tahun 2004, di daerah setempat terdapat 120 kelompok karawitan aktif. Kini, tahun 2010 jumlah kelompok karawitan diperkirakan bertambah banyak. Hal demikian disebabkan karena di wilayah kabupaten Sragen timbul kesadaran pada sebagian besar masyarakat bahwa pada acara-acara hajatan masyarakat, seperti: khitanan, kelahiran anak, tasyakuran, peringatan hari-hari bersejarah, dan terutama pernikahan dianggap kurang bergengsi tanpa nggantung gong atau mementaskan karawitan. Masyarakat setempat menyebut pementasan karawitan sebagai klenengan, kelenengan-campursari, dan cokekan. Di samping pementasan karawitan secara mandiri dalam acara-acara hajatan dewasa ini juga sering tampil karawitan untuk tayuban dan wayangan (Widodo, 2004).

Daerah-daerah lain di Jawa Tengah yang juga sebagai tempat subur bagi kehidupan karawitan antara lain: kabupaten Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, Purwodadi, Blora, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Purwakerta, Purworejo, Semarang, Tegal, Pati, Rembang dan daerah lain di Pantura Jawa Tengah. Dengan asumsi bahwa pada setiap kabupaten terdapat minimal 30 kelompok karawitan baik yang mandiri maupun terkait dengan seni pertunjukan lainnya maka di Provinsi Jawa Tengah yang terdapat 35 kabupaten/kota memiliki tidak kurang dari 1050 kelompok karawitan.

Dengan referensi jumlah kelompok karawitan Jawa di kabupaten Sragen yang mencapai ratusan maka amat dimungkinkan jumlah kelompok-kelompok karawitan di kabupaten/kota lainnya pun dapat lebih dari 30 kelompok. Dari jumlah kelompok di setiap kabupaten/kota yang minimal 30, dan apabila dalam setiap kelompok memiliki ranggota rata-rata 20 orang maka dapat diperkirakan jumlah praktisi atau pemain karawitan Jawa di provinsi Jawa Tengah tidak kurang dari  21.000 orang.

Belum Miliki Wadah

Sayangnya kekuatan besar para praktisi karawitan Jawa pada berbagai kelompok karawitan Jawa di Jawa Tengah tersebut hingga kini belum memiliki wadah organisasi. Sementara pada dunia pewayangan atau pedalangan telah memiliki 3 organisasi yakni: PEPADI, SENAWANGI, dan GANASIDI yang amat bermanfaat sebagai tempat komunikasi, koordinasi, dan silaturahmi antar pelaku dan pemikir pewayangan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Karena tidak ada wadah organisasi, kelompok-kelompok karawitan hidup sendiri-sendiri tanpa memiliki program bersama yang berdaya guna untuk memajukan dunia karawitan Jawa.

Mereka juga seringkali kurang memiliki kekuatan manakala menghadapi ketidakadilan dan ketidaklayakan dalam menjalani profesi sebagai pelaku karawitan Jawa. Hal demikian sering dijumpai teruama pada sebagian pelaku karawitan yang mengikuti para dalang wayang kulit. Karena tidak ada organisasi yang memayungi maka hidup dan mati mereka dalam menjalani profesi amat tergantung pada para dalang  .

Bertolak dari ilustrasi singkat di atas, dalam kesempatan ini kami berniat untuk membentuk perhimpunan antar organisasi karawitan yang diberi nama  Pakumpulan Paguyuban Karawitan Jawa-Indonesia yang disingkat Pakarjawi. PAKUMPULAN adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti perhimpunan, persatuan atau asosiasi. PAGUYUBAN adalah kelompok atau organisasi yang beranggotakan banyak orang yang dalam hal ini para pelaku atau praktisi karawitan Jawa. KARAWITAN  menunjuk pada berbagai aspek musikal pada musik gamelan, alat musik, pemain, komposisi gending, cara penyajian, notasi, dan lain-lain. Karena menyangkut semua aspek musikal maka karawitan merupakan sistem musikal musik gamelan. JAWA dalam hal ini menunjuk pada pulau yang memiliki gaya seni budaya khas, yakni pulau Jawa. INDONESIA adalah Negara yang di dalamnya terdapat pulau dan budaya Jawa. Pakumpulan Paguyuban Karawitan Jawa-Indonesia (Pakarjawi) merupakan perhimpunan antarkelompok-kelompok karawitan Jawa yang berpusat di Jawa Tengah.